Bulan Februari 2021 kemaren, usia pernikahan kami genap berusia 18 tahun. Sudah banyak kebahagiaan dan tantangan yang telah kami lewati bersama. Kalau kata pepatah mah “sudah makan asam garam”.  Mulai dari suka, duka, tangis, sedih, gembira, tertawa, marah, cemburu, curiga, sampai berantem, semuanya sudah kita rasakan. Kita bersyukur karena kita berdua masih bisa melewati semua tantangan serta rintangan itu.

Namun, sampai hari ini doa yang selalu kami panjatkan kepada Tuhan, masih belum dikabulkan, yakni keinginan untuk memiliki momongan. Keinginan itu tidak pernah terlewatkan dalam setiap doa yang kami panjatkan. Kami berdua hanya bisa berharap bahwa suatu saat nanti kami diberi kesempatan untuk dipanggil papa dan bunda oleh anak kami. Meskipun usia kami sudah diangka empat, harapan untuk mendapatkan kepercayaan dari Tuhan selalu kami tunggu.

Selalu “Cemburu” pada pasangan lain dan muncul rasa sedih

Perasaan cemburu pada sahabat, teman atau pasangan lain yang sudah memiliki momongan selalu muncul. Dengan tiba-tiba dalam hati muncul pertanyaan kepada Tuhan, kenapa Tuhan belum memberikan anak pada kami. Padahal kami berdua merasa sudah siap jika diberi kepercayaan untuk memiliki anak.

Selain cemburu, perasaan sedih kadang-kadang juga ikut masuk ke dalam perasaan kami berdua, sesekali kami berdua suka menangis. Tapi kami berdua, selalu berfikir positif saja, kenapa Tuhan belum menjawab permohonan kami. Pasti ada kebaikan dibalik semua itu.

Menerima ejekan dan hinaan

Ejeken dan hinaan bagi pasangan yang belum memiliki anak lebih banyak dirasakan oleh seorang wanitanya. Hal itu bener-bener dirasakan oleh “my lovely”. Kata “mandul” adalah kata yang sering didengar langsung oleh isteri saya. Tapi isteri saya betul-betul hebat, dia tidak pernah terpengaruh sedikit pun dengan perkataan itu. Dan saya pun alhamdulilah selalu diberi kekuatan oleh Tuhan.

Bahkan ada yang sampai mengatakan kepada kami berdua, “….Hai, nggak punya anak mah, hidup bakal susah, kalau sakit siapa yang mau jagain “… itu kata mereka.

Silahkan berpoligami ?

Sebuah kalimat yang tiba-tiba muncul dari mulut isteri saya. Awalnya saya anggap hanya becanda dan lelucon belaka. Tapi dengan suara yang sangat meyakinkan, isteri saya mengatakan bahwa perkataan itu serius ia ucapkan dan ia ikhlas jika harus dipoligami. Yang saya katakan pada isteri, “saya tidak ada niat dan tidak ada keinginan untuk berpoligami. Dan saya minta kepada Tuhan, agar keinginan untuk berpoligami jangan pernah ada dalam hati saya. Anak bagi saya adalah sebuah bonus dari proses pernikahan yang kita jalani.”

Sampai saat ini kami berdua hanya berharap kepada Tuhan, untuk selalu diberi kebahagiaan dan kesehatan. Harapan dan keinginan untuk punya anak tidak pernah hilang, bahkan selalu “MAKSA” dan “ MARAH” kepada Tuhan. Tapi kami yakin ada hal lain yang mungkin belum kami ketahui kenapa Tuhan masih belum memberikan kepercayaan kepada kami berdua.

Orang-orang selalu bilang, “Pasangan rumah tangga kurang sempurna tanpa kehadiran anak”. Namun bagi berdua, “Kami tetap sempurna tanpa ada anak atau tidak, kalaupun ada anak akan kami jadikan sebagai penyempurna agar kami jadi lebih sempurna”