Waktu belajarku di sekolah ini sudah hampir selesai, sekarang sudah memasuki semester akhir alias semester 6 tingkat Madrasah Aliyah. Hanya tinggal beberapa minggu aku dan teman-temanku untuk bisa bersenda gurau, tertawa bersama, main bersama, pokoknya serba sama sama.

Banyak cerita yang diukir selama saya belajar di madrasah Aliyah ini, ada sedih,  bahagia, canda, kesal, tangis, dan tawa. Namun semuanya bercampur dalam sebuah kebersamaan. Memiliki kesan yang berharga dan tentu saja spesial.

Tapi ada satu hal yang belum terwujud dari harapanku. Harapan itu adalah menyatakan isi hatiku pada seseorang yang selama ini Aku anggap sebagai orang yang paling berbeda di antara teman-teman perempuan ku.

Waktu terus berjalan, bahkan hanya hitungan hari bagiku untuk mewujudkan keinginananku itu. Tapi aku yakin dengan waktu yang tersisa, aku akan mampu menyatakan "Kesukaanku" pada temen perempuan itu. Entah kapan dan di mana aku menyatakannya, biarlah waktu yang menentukan.

Aku teringat ucapan seorang guruku yang mengatakan bahwa, "semua orang pasti memiliki keinginan untuk menyukai orang yang dianggap spesial bagi dirinya", ujar guruku.

Beliau melanjutkan ucapannya, "makanya jangan pernah menyia-nyiakan waktu yang ada, hanya tersisa 90 hari kesempatan kalian untuk mengatakan keinginan itu".

Aku semakin penasaran dengan ucapan guruku itu, lalu aku pun memberanikan diri untuk bertanya dengan singkat, "caranya ?". 
Guruku dengan yakin menjawabnya, "masalah diterima ataupun ditolak, itu bagian dari bonus, YANG PENTING CUKUP ORANG ITU TAHU DULU, BAHWA KAMU MENYUKAINYA"

"Lalu setelah itu ?", Tanyaku lagi
"Rasa cinta itu kamu simpan baik-baik, jika cinta itu memang tercipta buat kamu, perempuan itu akan menjaganya, dan menunggu kamu sampai kamu menghampirinya", lanjut guruku.

Setelah mendengarkan ucapan guruku, aku termotivasi untuk melakukan hal yang menjadi keinginanku yang belum terwujud. Dan aku berjanji akan melakukannya setelah menyelesaikan semua rangkaian ujianku di sekolah ini.

Seperti biasa hari-hariku kulalui dengan penuh kegembiraan karena tiada lain setiap hari aku masih bisa melihat senyuman perempuan itu yang senyumannya begitu lepas dan penuh makna. Meskipun aku sendiri sadar bahwa perempuan itu, peluang untuk menerima cintaku sangat kecil. Tapi aku teringat ucapan guruku, paling tidak perempuan itu TAHU AJA DULU, kalau aku menyukainya.

---75 Hari Kemudian---

Akhirnya semua rangkaian ujianku telah selesai kujalani. Dan tidak terasa hanya tersisa 15 hari lagi aku menjalani aktifitas sebagai seorang pelajar. Dan di waktu tersisa itu pula aku bisa berkumpul bersama sahabat-sahabatku.

Kembali teringat akan ucapan ku sebelum melaksanakan ujian,  bahwa aku akan memberanikan diri untuk menyatakan rasa sukaku pada sahabat Perempuanku itu.

Namun, itulah aku, rasa berani ku kalah dengan kekuranganku. Aku tidak pintar, aku  minder, hanya kesukaanku terhadap olahraga dan menulis puisi lah mungkin itulah kelebihanku. 

Rasa bingung mulai menghampiriku, "lalu bagaimana caranya aku menyatakan isi hatiku pada perempuan itu, jika aku kaku tak bisa mengatakannya secara langsung", ucapku.

Orang kalau sudah memiliki keinginan yang kuat, apapun akan dilakukannya. Mungkin kalimat itu yang memotivasi aku untuk menyatakan rasa kesukaanku pada perempuan itu. Ditambah ucapan guruku, jangan pernah menyia-nyiakan waktu yang ada, cukup tahu aja dulu, tidak perlu langsung mendengar jawabannya.

Tidak ada waktu lagi, dan hanya tersisa 5 hari sebelum hari perpisahan, untuk aku menyatakan rasa itu. 

Hari yang kuanggap  menakutkan itu akhirnya tiba. Perempuan yang aku sukai duduk sendirian di bawah pohon yang ada di pojok kelas. Kebetulan suasana sekolah belum ramai karena baru pukul 06.30, jadi hanya beberapa siswa yang baru datang.

Kuhampiri sahabat Perempuanku itu, dengan sapaan seperti biasa.
"Assalamualaikum, tumben pagi pagi udah datang", ucapku kepadanya.
"Kebetulan aja pengen pagi-pagi", jawabnya dengan sedikit senyuman.

Aku bener-bener blank, semua kata dan kalimat yang dipersiapkan hilang diotakku, sampai aku salah tingkah dihadapannya. 

Sahabat Perempuanku itu, lalu tiba-tiba berucap, "kamu baik-baik saja kan ?, Nggak ada apa-apa kan, kok muka kamu pucat", tanya dia sambil keheranan melihatku.
"Ee...ee...nnn...gak ada apa apa", jawabku dengan sedikit salah tingkah.
Lalu sahabatku melanjutkan ucapannya, "bener nggak ada apa-apa?",

Lalu aku mencoba mengendalikan rasa salah tingkahku dengan mengatur nafasku. Karena alasan tak ada waktu lagi dan sedikit kesempatan yang ada, akhirnya aku memberanikan diri untuk menyampaikan apa yang ada di dalam hatiku.

"San, kamu adalah sahabat terbaikku, aku anggap kamu sahabat paling berarti buat aku. Mungkin hanya 5 hari lagi kita bisa sama sama berkumpul sama temen-temen, dan aku anggap hari ini kesempatan terbaik buat aku menyampaikan rasa yang ada dalam hatiku, jujur .... (bibirku terdiam sejenak) 
"Jujur apa ? ", Tanya perempuan itu dengan senyuman khasnya.
"AKU MENYUKAI MU", Ucapku dengan rasa yang sangat tegang.

Sesaat setelah aku mengatakan itu, sahabat ku itu terdiam dan sepertinya sangat kaget. Belum sempat sahabatku itu menjawab, lalu aku menyampaikan kalimat terakhirku, "kamu tidak perlu menjawab dan aku tidak perlu jawabanmu, yang penting kamu CUKUP TAHU AJA kalau aku ada rasa terhadap kamu. Maaf telah menganggu ketenangan hatimu." Ucapku.

Setelah mengucapkan kalimat itu, aku lekas pergi ke kelas dengan hati plong karena sudah menyampaikan harapan sebelum aku meninggalkan sekolah ini.

--- Perpisahan Tiba ---

Hari yang ditunggu-tunggu oleh semua siswa kelas 12 akhirnya tiba juga, yakni acara perpisahan. 

Seperti temen-temen yang lain, aku pun berpakaian seperti kebiasaan adat perpisahan siswa yaitu berpakaian kemeja putih lengan panjang dan berdasi.

Suasana gembira yang seharusnya diperlihatkan oleh semua siswa tampaknya tidak berlaku bagi aku. Terus terang aku jadi  tidak percaya diri, malu, dan bingung setelah kejadian mengutarakan isi hatiku pada sahabatku.

Acara perpisahan pun telah usai dengan diakhiri acara maaf-maafan dengan semua guru dan temen-temen. Namun, aku sengaja tidak mengikuti moment maaf-maafan dengan mereka. Aku hanya ikut momen foto bersama saja.

Aku tidak sempat ketemu yang terakhir kalinya dengan sahabat sepesial ku, karena setelah momen foto bersama aku langsung pulang. 

Namun, sebelum meninggalkan sekolah, aku menulis puisi yang aku tempelkan di majalah dinding, dengan harapan sahabatku itu membacanya. Dan berikut kutipan puisi itu :

"CUKUP TAHU SAJA"

Puisiku Untuk Perempuan Pemakai Pin Bertemakan Cinta

Aku hanya sahabat biasa buat kamu
Aku mungkin tidak bisa meminta lebih 
Tapi masalah rasa di hati
Menjadi hak semua manusia untuk memiliki

Salahkah jika aku menyukainya
Salahkah jika aku ingin merubahnya
Teman biasa menjadi teman yang berarti
Menempatkan namaku dihatinya

Maaf jika ucapanku mengganggu hatimu
Maaf jika perkataaku membuatmu malu
Hanya kesempatan di 90 hari inilah
Untuk aku mengutarakan isi hatiku

Tak perlu engkau jawab
Tak perlu capek capek engkau susun kata-kata
Bagiku CUKUP TAHU SAJA, bila aku menyukaimu.

Aku yakin dengan Tuhanku,
Jika apa yang kulakukan ini benar, Tuhan akan membawamu dihadapan ku
Ditempat yang tak terduga, dan diwaktu yang tepat.

Terima kasih, Wahai perempuan pemakai pin bertemakan cinta.


Apa yang akan terjadi selanjutnya,
Bersambung ......