Diawali dengan kontroversi serta pro dan kontra, akhirnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di 270 daerah di Indonesia telah selesai dilaksanakan, tepatnya pada tanggal 9 Desember 2020.

Banyak pasangan calon yang sudah mengklaim kemenangan dengan merujuk pada versi quickcount, baik yang dilaksanakan oleh quickcount internal maupun oleh lembaga quickcount independen.

Bukan hanya pasangan calon yang bergembira, tetapi para simpatisan dan pendukung dari masing-masing pasangan calon juga turut bergembira. Hal itu lumrah dan sah sah saja, hanya saja di saat pandemic saat ini alangkah bijaknya uporianya ditunjukkan dengan biasa saja. Tidak perlu melakukan konvoi atau pawai serta pesta kemenangan yang bisa membuat kerumunan.

Namun, dalam setiap pemilihan kepala daerah atau apapun itu, ada tradisi unik yang sering mengiringi kegiatan pemilihan kepala daerah ini yakni “Ngubek Kolam”, atau di daerah saya, yang kebetulan orang sunda, namanya “Ngubek Kulah”.

Ngubek Kolam ini boleh dibilang sebagai bentuk kegembiraan dimana calonnya mendapatkan kemenangan. Dan biasanya kegiatan ini disponsori oleh Tim Sukses dari pasangan calon.

Terkadang masyarakat merasa cukup hanya dengan diberi fasilitas ngubek kolam saja. Padahal  menurut saya, ada yang lebih penting  yaitu  masyarakat terutama pemilihnya  harus mengawal pasca pemilihan, terutama janji-janji politik dari orang yang dipilihnya. Namun, hal ini sering dilupakan bahkan masyarakat masa bodoh.

Pemilih harus cerdas, jeli, dan tidak boleh dibodohi oleh calon yang memenanginya. Karena  tidak sedikit yang merasakan janji politiknya, justru orang-orang ring-1 (paling dekat) dengan calonnya, apalagi ring-1 itu, seorang pelaksana proyek.  Sementara masyarakat di bawah hanya dijadikan tim horee saja, selesai kegiatan yah sudah dilupakan.

Yuk kita harus pintar dan cerdas.  Harus ada perubahan setelah kita memilih. Karena sejatinya politik itu bertujuan untuk mensejahterakan rakyat, bukan mensejahterakan kelompoknya.