Pertengahan tahun 2020 secara tidak sengaja Saya mengklik salah satu konten ceramah yang ada di Youtube, isi ceramahnya seputar  tafsir al-quran. Yang membuat saya kagum  adalah si penceramahnya yang menyampaikannya sangat lugas, dalil-dalil yang diucapkannya “shoheh”, dan yang pasti rasional banget. Dan ternyata penceramah itu namanya baru saya kenal, yaitu K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau biasa disapa dengan sebutan Gus Baha.

Setelah menonton yang  pertama itu, saya jadi sering melihat dan menonton ceramah ceramah Gus Baha, yang ada di kanal Youtube. Meskipun beliau sering menyampaikannya dengan bahasa Jawa, tapi saya selalu melihat transletnya.

Ada beberapa hal yang menarik dari sosok dan isi ceramah Gus Baha ini. Pokoknya ada sesuatu yang tidak dimiliki oleh penceramah lain. Kalau menurut saya sih, coba sekali kali dengerin ceramahnya Gus Baha, dijamin “asyik”.

Gus Baha yang merupakan santri kesayangan almarhum ulama kharismatik, Syaikhina KH Maemoen Zubair atau Mbah Moen ini sekarang jadi idola para netizen, bahkan bukan hanya dikalangan masyarakat awam saja, tetapi di kalangan para penceramah dan para ulama lainnya.

Yang pertama yang membuat saya tertarik mendengar ceramahnya adalah Beliau ketika menerangkan salah satu masalah selalu dijelaskan dengan runtut. Mulai dari ayatnya, kemudian artinya, lalu tafsirannya. Tidak sampai disitu, kemudian diperkuat dengan hadis-hadis dan disempurnakan oleh ijma ulama. Pokoknya kompliiiitttt banget. Prof. Qurais Sihab sebagai ahli tafsir di Indonesia sampai ngomong: ““Sulit ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail al-Quran hingga detail-detail fikih yang tersirat dalam ayat-ayat al-Quran seperti Pak Baha.”

Kedua, yang membuat saya tertarik adalah beliau menghilangkan “sentiment” kelompoknya. Kenapa saya berani ngomong gitu. Beberapa kali isi ceramah yang disampaikannya, “menyentil” diluar kelompoknya tetapi juga beliau berani mengkritik dengan dalil yang kuat kelompoknya sendiri yang tiada lain Nahdatul Ulama (NU).

Ketiga, relative diterima semua kelompok. Hampir semua kelompok menerima isi ceramahnya. Bahkan yang paling saya angkat topi, saat pentolan Teroris dengan jujur mengatakan bahwa penafsiran al-quran yang selama ini mereka anggap benar ternyata salah. Penafsiran yang sebenarnya dan lebih logis dengan dalil-dalilnya adalah penjelasan Gus Baha.

Keempat, cara menjawab pertanyaan seputar hukum agama. Misalnya, saat Beliau ceramah di salah satu tempat, lalu ada yang bertanya seputar hukum minum-minuman keras di daerah dingin seperti korea, Gus Baha hanya menjawab dengan santai penuh makna, “Kamu kreen, kalau nggak minum”. Jawaban yang sederhana tapi menyentuh, ada nilai sosiologis dengan jawaban itu. Jawaban yang disampaikan secara tidak langsung akan menyadarkan si peminumnya.

Yang terakhir yang membuat saya tertarik dan asyik mengikuti perjalanan Gus Baha di Youtube adalah sosok pribadinya yang “low profile”. Dengan ciri khas peci hitam yang kerap dipakai sedikit ke belakang sehingga rambut bagian depannya keliatan, baju putihnya, dan tidak lupa khas NU nya yaitu sarungan, itu yang membuat saya adem litany.  Tidak sampai di sana, salam hormat atau takdim kepada siapa saja yang dianggap lebih tua apalagi berilmu, beliau selalu perlihatkan. Dan perlu diingat, beliau satu-satunya anggota dewan tafir nasional yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, sunggur luar biasa.

Itulah sosok Gus Baha menurut saya. Kepada yang lainnya cobalah sekali-kali sempatkan waktu untuk denger ceramahnya Gus Baha. Cukup tulis dipencarian Gus Baha, karena beliau tidak punya Chanel pribadi. Wallahu ‘alam