7 Tips Menjadi Guru Yang Disukai Siswa

Konten [Tampil]
7 Tips Menjadi Guru yang Disukai Siswa SMA/MA


Kalau sekedar menjadi guru yang hanya datang , menyampaikan materi , lalu pulang, menurut saya sesuatu sangat mudah untuk dilakukan. Namun, untuk menjadi seorang guru yang dihargai dan disukai oleh siswanya, baru suatu pekerjaan yang tidak mudah dilakukan. Apalagi bagi guru yang mengajar ditingkat menengah atas atau madrasah aliyah, yang siswanya sudah pasti bisa menilai terhadap gurunya.

Kenapa seorang guru harus disukai oleh siswanya ? Jelas, ketika seorang siswa sudah menyukai sosok gurunya, maka siswa tersebut akan mudah diarahkan oleh gurunya. Guru tidak akan mengalami kesulitan ketika memberikan nasehat, begitupun siswanya akan langsung menerima nasehat yang diberikan gurunya.

Akan berbeda jika siswa dinasehati oleh seorang guru yang tidak sukainya, bukannya menurut dan menerima, yag ada justru kebalikannya, siswa akan menolak atau bahkan hanya berkata iya-iya saja di depan, tetapi mencibir di belakang.

Bagi saya yang alhamdulilah berprofesi sebagai seorang guru di madrasah, menjadi guru yang disukai murid itu sesuatu keharusan dan perlu diciptakan. Karena bagi saya ketika diri kita sudah diterima lalu disukai oleh siswa, itu akan memudahkan kita sebagai guru mendidik para siswa.

Untuk menjadi guru yang disukai siswanya, memang perlu adanya kreatifitas dan inovasi dari seorang guru itu sendiri. Seorang guru sebaiknya tidak monoton dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Harus ada perubahan, baik di dalam kelas saat mengajar, maupun di luar kelas saat kita berinteraksi dengan siswa. 

Berangkat dari pengalaman saya sebagai seorang guru di Madrasah Aliyah Raudlotul Ulum Kadudampit Kab. Sukabumi, untuk menjadi guru yang disukai oleh siswanya memang gampang-gampang susah. Tapi cobalah 7 (tujuh) tips berikut untuk menjadi guru SMA atau MA yang disukai siswa, yang pernah dan masih saya lakukan terhadap siswa sampai saat ini.

Tips Menjadi Guru yang disukai siswa

  • Berikan Contoh

Sebelum menyuruh ke siswa untuk melakukan sesuatu, sebaiknya kitanya dulu sebagai guru yang pertama melakukannya. Berikan contoh dan perlihatkan perilaku atau sikap-sikap yang baik. Dengan memberikan contoh terlebih dahulu, siswa akan merasa segan untuk menolak ketika mendapatkan perintah dari guru.

Akan beda cerita, jika guru memberikan nasehat, tapi siswa tahu bahwa ucapan gurunya itu bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya, jangan harap siswa bisa menerima nasehat yang akan guru berikan terhadap mereka. Bukan simpati yang yang ada, justru sikap antipati dan apatis yang muncul pada diri siswa.

  • Tidak Langsung Men-Judge

Saya sering mengalami situasi dimana anak telat masuk jam pelajaran saya, atau sering alfa saat pelajaran saya. Saya tidak langsung menghakimi siswa tersebut bersalah. Saya lebih mendahulukan untuk bertanya serta berkomunikasi dengan siswa tersebut, kenapa mereka terlambat atau kenapa mereka sering tidak masuk saat pelajaran saya.

Cobalah sebagai seorang guru, misalnya dihadapkan pada situasi siswa terlambat sekolah, atau siswa melakukan pelanggaran, lalu kita langsung marah-marah dan men-judge siswanya bersalah, tanpa memberikan kesempatan siswanya untuk memberikan penjelasan, siswa akan langsung memberi nilai negative pada diri kita sebagai guru.

Kalaupun siswa tersebut benar-benar melakukan kesalahan yang disengaja, maka sebaiknya awali dengan nasehat. Dan sebaiknya saat diberikan nasehat, tidak dilakukan satu arah, tetapi berkomunikasi secara interaksi dengan siswa tersebut.

  • Bersahabat saat di Kelas dan di Luar Kelas

Jadikanlah siswa sebagai sahabat. Tapi bukan berarti siswa memiliki kebebasan terhadap gurunya. Bersahabatlah saat di kelas maupun di luar kelas. Saya sebagai guru tidak pernah membatasi siswa saya untuk mengeluarkan pendapatnya. Kita berikan kenyamanan kepada mereka, karena tidak semua siswa mempunyai latar belakang keluarga yang sehat. Tidak sedikit siswa yang berangkat ke sekolah, berangkat dari keluarga yang bermasalah. Disinilah sebagai seorang guru, saya mencoba menempatkan posisi saya sebagai sahabat. Tujuannya tiada lain agar mereka tidak merasa canggung, ketika mereka mau bercerita tertang masalahnya. 

fahami psikologis anak, setiap siswa memiliki psikologis yang berbeda

Di luar kelas pun, saya mencoba memposisikan saya sebagai sahabat. Saya hilangkan batas antara siswa dan guru. Tetapi tetap batasan dan etika siswa terhadap guru tidak saya hilangkan. Saya selalu memberikan komentar terhadap status-status siswa saya yang ada di media sosial. Hanya sekedar memberikan motivasi atau sekedar memberi tahu bahwa gurunya selalu ada untuk siswanya.

  • Belajar Bahasa-bahasa Trend

Tips selanjutnya adalah belajar bahasa-bahasa yang lagi ngetrend saat ini. Cobalah berliterasi dengan melihat media sosial. Setiap saat sering muncul bahasa-bahasa yang ngetrend. misalnya yang terbaru kata ghosting, atau panik nggak ? panik nggak ? ya panik lah . Dan saya selalu kalau ada kata-kata yang lagi ngetrend, saya selipkan saat mengajar di kelas. Ya selain untuk mengisi kejenuhan di kelas, juga sedikit memberikan sisi humoris saat mengajar. Siswa juga sedikit banyaknya akan menganggap kita sebagai guru yang tahu situasi terbaru.

  • Sesekali Traktir

Kalau dapat rizki yang berlebih, sesekali ajaklah beberapa siswa untuk kita traktir. Saya kalau kebetulan dapat rizki yang lebih, saya selalu menawari beberapa siswa untuk jajan. Ada siswa yang malu-malu ada juga siswa yang tidak canggung menerima tawaran saya.

Tips ini benar-benar memberikan efek yang sangat efektif. Para siswa jelas selain senang, juga menaruh rasa simpatik kepada kita sebagai guru. Tapi jangan keseringan … he he

  • Ajak Mereka Ngaliwet

Selalu mengajak siswa untuk makan nasi liwet atau istilahnya ngaliwet, menjadi favorit yang sering saya lakukan. Saya melakukannya kadang di sekolah, atau di luar sekolah saat libur. Ngaliwet ini bagi saya bertujuan untuk lebih mendekatkan kita sebagai guru dengan para siswa.

Bukan hanya keseruannya yang saya cari, tapi di sela-sela ngaliwet itulah saya selalu mengajak mereka untuk ngobrol santai. Bertanya bagaimana ketika mereka di kelas, bagaimana guru-guru mengajarnya, hambatan saat belajar dan lain-lain. Mereka lebih berani bercerita seperti itu ketika berada pada suasana di luar kelas, dan situasi itu bisa kita dapatkan salah satunya dengan ngaliwet.

  • Respek Pada Keadaan Siswa

Ketika mengajar saya tidak hanya menyampaikan materi pelajaran yang saya ampu, saya selalu menyediakan waktu untuk memperhatikan para siswa yang saya anggap punya masalah psikologis. Misalnya siswa yang kurang focus, atau melamun saat proses belajar, saya langsung bertanya kenapa.

Disinilah memang sebaiknya seorang guru memiliki respek terhadap keadaan siswa di kelas. Karena menurut saya, para siswa tidak memiliki karakter yang sama. Ada yang cepat menangkap materi, ada yang lambat menangkap materi, ada yang berangkat ke kelas dalam suasana hati yang gembira, ada yang sebaliknya yaitu dalam suasana yang sedih. Oleh karena itu, peran guru untuk memahami psikologis siswa betul-betul sangat dibutuhkan. Yang saya rasakan, para siswa di tingkat atas, mereka punya masalah yang lebih kompleks.

 

Selain memahami psikologis para siswa, guru juga sebaiknya memberikan reward terhadap siswa yang berprestasi. Berikan pujian yang layak jika siswa melakukan hal yang baik, dan tidak langsung menilai negative jika siswa melakukan kesalahan. 

Tips agar mudah disukai siswa

Itulah 7 (tujuh) tips yang masih saya lakukan terhadap para siswa. Mudah-mudahan ada manfaatnya dan bisa dicoba untuk dipraktekkan pada anak didik bapak dan ibu guru di sekolah

Baca Juga : Perjalananku Sebagai Seorang Guru

16 komentar:

  1. Saya baca ini jadi ingat masa sekolah yang dari anak rajin ke anak bandel hanya karena ada guru yang ngajarnya bikin istighfar :') Harus banget nih saya share ke kawan2 yang berprofesi jadi pendidik, terima kasih atas tips-tipsnya Pak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih... Ini semua hampir pengalaman saya, mudah mudahan tetap istiqomah

      Hapus
  2. Jadi teringat masa-masa menjadi seorang guru di beberapa SMP, SMK, dan SMA. Menemui banyak kondisi anak yang berbeda. Berusaha dekat dengan mereka yang dianggap nakal (padahal caper) akhirnya berubah. Kalau yang kayak gini di pegang, gampang ngendalikan kelas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang mas, jadi guru itu apalagi guru tingkat atas, yang saya rasakan gampang gampang susah


      Hapus
  3. Kalau saya jadi muridnya paling seneng ditraktir pak. Asal nggak dikorek masalahnya. Hhhe . Tipsnya berdasar pengalaman ya pak. 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesekali mbak :D,,, kalau ada rezeki lebih,

      Hapus
  4. Tips yg bermanfaat nih untuk para guru" di luaran sana.. Seneng banget ya kalo ada guru yg traktir murid"nya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting anak anak nggak stress dan bahagia ...

      Hapus
  5. Nah tuh, jarang banget lho ada guru yang mau memposisikan sebagai best friend bagi siswanya.. Patut di contoh nie.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak anak yang berangkat dari psikologis yang kurang bagus,, makanya saya berusaha memahami kondisi setiap anak, meskipun rada sulit karena utk anak anak tingkat atas agak tertutup utk masalah pribadi

      Hapus
  6. Saya tertarik dengan tips "sesekali traktir" . Kenapa gak setiap hari ya Pak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ada rezeki lebih aja dok :D he he

      Hapus
  7. Wah pak Hamdan ternyata guru favorit ya disekolah. Siapa yg ga senang kalo ditraktir oleh guru? Hehhe pasti berasa kyak sahabat sendiri ya, pak? Sering dijadikan tempat curhat ga pak? Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya hanya berusaha mbak, masih banyak belajar, ...

      Hapus
  8. Ini guru idaman siswa bgt nih, seru bgt klo semua guru di sekolah kyak gini ya..murid2nya smangat belajar jdinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, mudah mudahan bisa istiqomah dan bisa menginspirasi yg lain

      Hapus