"Nak, maaf Bapak belum bisa beliin baju lebaran buat kamu", ucap seorang ayah kepada anaknya.
"Nggak apa apa, Pak !", Jawab anaknya.

Pak Salman, biasa orang memanggilnya. Dia sehari hari bekerja sebagai petugas kebersihan. Dia memiliki seorang anak laki laki bernama Alfarisi, yang sekarang sedang duduk di kelas 5 sekolah dasar.

Akhir akhir ini Pak Salman sedikit mengeluh dengan keadaan yang terjadi saat ini, yakni dikuranginya jam Ia bekerja. Hal ini dikarenakan sedang mewabahnya virus Covid-19. Secara otomatis jumlah penghasilannya pun berkurang, karena Pak Salman pekerja dengan upah harian.

Pak Salman tahu bahwa Ramadan sudah sampai di hari ke 27, ini artinya tinggal 3 hari lagi lebaran tiba. Dan dia tahu bahwa Ia belum membelikan baju lebaran buat isteri dan anaknya. Terlebih anaknya, Alfarisi, yang selalu meminta untuk dibelikan baju lebaran.

Setiap kali pulang kerja, Alfarisi selalu menanyakan kapan dirinya dibelikan baju lebaran. Namun, ketika ayahnya, Pak Salman, mengatakan bahwa belum bisa membelikan baju lebaran, lantaran belum dapat uang lebih, Alfarisi dengan solehnya selalu menjawab sambil tersenyum"nggak apa apa, Pak"

Situasi seperti itu selalu membuat Pak Salman dan isterinya sering melamun. Karena uang yang selalu didapatkan hanya cukup untuk makan saja. Pak Salman hanya berharap agar di sisa waktu menjelang lebaran ini, Ia mendapatkan uang yang cukup, bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk membeli baju lebaran untuk anaknya.

Sampai tiba di malam takbiran, uang untuk membeli baju lebaran buat isteri dan  anaknya tak kunjung didapat. Pak Salman semakin sedih dan bingung harus bagaimana menghadapi isterinya terutama Alfarisi.

Di malam itu Pak Salman memanggil Alfarisi. Dengan suara tenang dan teratur Pak Salman mencoba menjelaskan tentang dirinya yang tak bisa memenuhi permintaan anaknya untuk dibelikan baju lebaran.

"Nak, maafin Bapak, nggak bisa beliin baju lebaran tahun ini", ucap Pak Salman kepada Alfarisi dengan mata sedikit berkaca kaca.
"Bapak, Ibu, tidak usah sedih, aku nggak apa apa kok, kalau lebaran besok nggak pake baju baru, kata pa guru juga di sekolah, Idul Fitri itu bukan ditandai dengan baju baru tetapi ditandai dengan bertambahnya ketaatan", jawab Alfarisi


Mendengar jawaban anaknya itu, Pak Salman tak kuat menahan tangis dan Ia langsung memeluk Alfarisi dengan erat sambil mengeluarkan air mata. Ia bahagia karena memiliki seorang anak yang Sholeh, tapi sekaligus  merasa berdosa karena tidak bisa membuat anaknya bahagia di hari kemenangan.

Akhirnya keduanya pun pergi ke masjid untuk melakukan takbiran. Tapi karena Alfarisi sudah ngantuk, akhirnya Pak Salman tidak menyelesaikan takbirannya dan Ia pun beranjak pulang ke rumah.

Hari kemenangan pun tiba, yakni hari raya idul Fitri. Pak Salman dan isterinya langsung melakukan persiapan untuk melaksanakan sholat Ied. Mereka sama sama menuju ke lapangan yang tidak jauh dari rumahnya.

Sambil menggandeng tangannya Alfarisi, Ia terus melangkah menuju tempat sholat Ied. Wajahnya tidak memperlihatkan kesedihan, padahal dalam hatinya, Ia sangat bersedih melihat anaknya yang tidak bisa memakai baju baru.

Bagaimana tidak sedih, di saat dimana teman teman Alfarisi memakai baju baru, Alfarisi justru hanya memakai baju batik sekolah, yang sudah terlihat pudar warna bajunya. Namun, Alfarisi tetap tersenyum lebar, seakan dirinya tak ada masalah jika harus mengenakan pakaian batik sekolahnya pada saat melaksanakan sholat Ied.

Pak Salman dan Alfarisi begitu juga istrinya, mereka begitu khusu melaksanakan sholat Ied. Dan mereka pun mendengarkan pesan idul Fitri yang disampaikan oleh khatib. Namun, lebaran kali ini tidak dilakukan tradisi salaman, karena masih pandemi Covid-19.

Di saat Pak Salman mau pulang meninggalkan tempat sholat Ied, tiba tiba dihadapannya ada seseorang yang menyapanya.

"Ini Pak Salman, yah ?", Tanya seseorang pada Pak Salman.
"Iya, Saya Pak Salman", jawab Pak Salman dengan sedikit kebingungan.

Lalu Pak Salman melanjutkan bertanya, "Kalau boleh tahu Bapak ini siapa yah ?"
Kemudian si Bapak tadi menjawabnya, "Bisa minta waktunya, saya mau bicara sebentar".


Dengan penuh tanda tanya, pak Salman mengiyakan untuk ngobrol dengan Bapak bapak tadi. Tapi, Pak Salman menyuruh dan meminta istri dan Alfarisi untuk pulang duluan.

Tak lama kemudian, Pak Salman pulang dan tiba di rumah. Sesampainya di rumah, Pak Salman langsung memanggil isteri dan anaknya. Tanpa lama lama, pak Salman langsung mengeluarkan isi dus, hasil pemberian seseorang yang bertemu di lapangan sholat Ied tadi.

Dengan mata yang terus berkaca kaca, Pak Salman berkata, "Nak, doamu dikabulkan Allah, Allah mengirimkannya lewat jalan dan tangan orang lain", kata Pak Salman dengan menyodorkan pakaian baru kepada Alfarisi. Begitu juga kepada isterinya.

Pak Salman tidak menyangka, bahwa di dalam dus itu berisi semua kebutuhan yang biasa selalu ada di hari lebaran. Mulai pakaian lebaran hingga kue kue khas lebaran.

Pak Salman, istri dan Alfarisi, tak henti hentinya menggucapkan syukur kepada Allah karena Allah mendengarkan apa yang mereka harapkan selama ini.

Di sela sela mereka mencoba pakaian baru, Alfarisi tiba tiba bertanya pada bapaknya, "Pak, siapa sih yang ngasih semua ini, terus orang yang tadi ketemu sama bapak di lapangan, itu siapa?".

"Orang yang ketemu bapak di lapangan tadi, beberapa waktu lalu sempat bapak tolong. Waktu itu hujan sangat deras, dan mobil yang Ia kendarai bannya kempes, lalu bapak membantu mengganti bannya yang kempes itu. Katanya beliau sangat bersyukur karena dibantu bapak, sehingga Bapak yang tadi tidak terlambat tiba di bandara. Bapak yang tadi harus terbang ke Surabaya untuk menengok anaknya yang kecelakaan, dan pesawat yang Ia tumpangi adalah pesawat terakhir", cerita Pak Salman pada Alfarisi


"Ooh  gitu !", Kata Alfarisi.
"Lalu, semua barang-barang ini dari siapa ?", Tanya Alfarisi

Kemudia Bapaknya menjawab, "Si Bapak tadi, ceritanya seminggu sebelum lebaran terus mencari alamat Bapak. Ia ingin memberi sesuatu kepada Bapak  sebagai bentuk terima kasih, karena pernah ditolong Bapak. Tapi sampai di malam lebaran pun, rumah kita tidak ditemukan. Namun, pagi ini Allah menakdirkan, kita harus bertemu. Dan Bapak yang tadi lah yang memberikan semua barang barang ini"


Pak Salman, isteri dan Alfarisi semuanya sujud syukur dan mengucapkan Alhamdulillah