Tanggal 22 Juni 2020 akan diingat sebagai acara wisuda paling berbeda dalam sejarah perjalanan 13 tahun MA Raudlatul Ulun Kadudampit.

Banyak momen haru, bahagia dan sedih dalam perjalanannya. Semua ini karena ada keadaan yang memaksa, yakni pandemik covid-19. Namun, acara akhir tahunannya tetap memiliki kesan yang berharga buat mereka yang di wisuda.

Ada momen-momen yang berbeda yang dirasakan oleh mereka yang melaksanakan wisuda. Mulai dari semua peserta wisuda dan orang tua harus mengenakan masker, sebelum masuk ruangan mesti diperiksa dengan termorgun, tangan harus dibilas dengan hand sanitizer, sampai orang-orang yang akan menyematkan tanda kelulusan harus menggunakan sarung tangan mirip petugas medis. Yang semua itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

Momen pertama yang dirasakan adalah saat nama "DORIS" dipanggil dan sang Kakak mewakilinya untuk maju ke depan, semua yang hadir terdiam dan suasana pecah dengan kesedihan, hampir semua yang hadir tidak kuat menahan air matanya. Mereka sedih karena sosok Doris tidak bisa ikut hadir di tengah tengah mereka karena beberapa hari sebelum acara wisuda, ia harus dijemput oleh Sang Khalik.

Ada juga momen bahagia, momen ini didapatkan oleh mereka mereka yang dipanggil untuk menerima penghargaan sebagai siswa siswa yang berprestasi.

Momen momen lain yang juga hadir di tengah mereka adalah momen haru biru. Ada yang berfoto dengan "pasangannya", ada yang minta berfoto dengan orang yang disukainya tapi yang diminta fotonya tidak "sadar-sadar", ada yang ngasih "cendramata" kepada sang pujaannya yang harus menunggu 3 tahun untuk berani mengungkapkannya, ada juga yang masih belum berani mengungkapkan isi hatinya, padahal dari wajahnya terlihat jelas ia ingin mengucapkannya. Tapi ada juga yang memanfaatkan momen akhir perpisahan untuk berkomitmen, yaaa jadian mungkin.

Itulah mungkin momen momen yang akan selalu diingat oleh "Angkatan Corona".