Perasaan itu mulai muncul saat memasuki semester dua kelas 10, namun perasaan itu tidak pernah terucap atau diketahui oleh siapapun sampai sekarang.

Entah aku nya yang tidak percaya diri atau entah dianya yang tidak memiliki rasa peka. Yang pasti perasaanku hanya sebatas cinta dalam diam.

Ada hal yang membuat aku tidak bisa mengungkapkan perasaan itu kepadanya. Dia telah menganggap ku sebagai sahabat yang paling dekat dan istimewa. Mungkin karena alasan itulah aku masih menyimpan perasaan itu sampai sekarang. Lebih baik menjaga persahabatan yang telah dirajut selama 3 tahun daripada harus hancur hanya gara gara ingin dianggap lebih dari persahabatan.

Sampai hari ini aku masih berharap dia bisa membaca dan merasakan apa yang aku rasakan. Tentunya, sambil berdoa semoga Keajaiban Tuhan menghampiriku.

Aku masih bersyukur, aku masih bisa melihat gerak gerik tawanya, senyumnya.

Aku hanya berpikir positif saja, mungkin aku bukan tipe cowok yang diinginkannya. Atau mungkin juga aku lebih cocok menjadi sahabatnya.

Kata orang, kalau mencintai perempuan yang tidak peka sama sekali, coba berikan perhatian yang lebih. Sepertinya kalimat itu tidak berlaku bagi diriku.

Kalau boleh jujur, tidak terhitung berapa kali perhatian lebih  aku berikan kepadanya, berapa waktuku yang tersita hanya untuk mendengarkan curahan hatinya.

Mungkin lagi lagi perhatian yang kuberikan kepadanya hanya dianggap sebagai  perhatian yang datang tidak lebih dari seorang  sahabat saja.

Kadang aku bertanya, pantaskah aku menangisi dan marah pada Tuhan ??Sampai kapankah situasi ini akan berakhir ?? Aku hanya berharap pada Tuhan yang punya perasaan semua makhluknya.

Suatu saat nanti, aku yakin dia akan tahu bahwa selama ini mataku tidak pernah bohong kalau aku menaruh hati kepadanya. Tidak cukupkah dengan mataku kalau aku sangat mencintainya.