Tahun 2005 saya lulus dari sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung, dan di tahun yang sama saya mendapatkan tawaran untuk mengajar di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Tanpa pikir panjang saya menerima tawaran itu, karena yang menawarinya itu tiada lain adalah ayahku sendiri.

Jujur saya sendiri waktu itu masih ragu untuk menerima tawaran itu, maklum saja karena kuliah yang saya ambil bukan jurusan pendidikan melainkan jurusan sosiologi. Bahkan sosiologinya pun bukan pendidikan sosiologinya, tetapi sosiologi umum. 

Waktu daftar di perguruan tinggi saat itu, sama sekali saya tidak melirik jurusan yang berbau-bau pendidikan. Yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah bagaimana saya bisa keluar dari zona pendidikan, karena semua keluarga saya, mulai dari ayah, ibu dan seluruh saudara saya semua berkecimpung di dunia pendidikan, semuanya berstatus guru. Hal itulah yang membuat saya memilih jurusan lain, tepatnya jurusan sosiologi.

Empat tahun berlalu dan saya pun lulus di tahun 2005 dengan predikat Sarjana Sosial. Keinginan tinggalah keinginan, yang tadinya saya ingin berkecimpung di dunia sosial dan jurnalistik, akhirnya harus bersentuhan dengan dunia pendidikan. Mungkin darah yang mengalir dari orang tua di tubuh saya ini adalah darah pendidikan.

Balik lagi, di tahun 2005 saya menerima tawaran ayah saya untuk menjadi guru di sebuah Madrasah Ibtidaiyah, yang saat itu ayah saya menjabat sebagai kepala sekolahnya. Sebagai guru pemula, saya sendiri pernah mengalami yang namanya gerogi, gemetar dan kurang percaya diri, padahal saat itu saya hanya mengajar anak-anak usia antara 7-12 tahun. 

Tapi dengan arahan dan dorongan ayah saya, lambat laun saya belajar cara mengajar yang baik secara otodidak langsung dari ayah dan kakak saya yang sama sama guru. Saya ikuti nasehat mereka dan untuk menambah ilmu pendidikan, saya selalu aktif mengikuti workshop-workshop pendidikan dengan tujuan agar ada ilmu baru yang nantinya saya dapatkan.

Empat tahun mengajar di Madrasah Ibtidaiyah, pada tahun 2009 ada tawaran mengajar di tingkat atas, tepatnya di Madrasah Aliyah (MA). Anehnya tawaran itu muncul, di saat saya merenung tentang ilmu ilmu yang saya dapatkan saat kuliah dulu. Dalam hati saya berucap, saya mengajar di MI sementara bagaimana ilmu-ilmu sosiologi yang saya peroleh pada waktu kuliah bisa diamalkan. Eh... Tuhan mungkin mendengar isi hati saya. Yang membuat saya langsung tanpa berpikir panjang menerima tawaran itu adalah saya dapat tawaran untuk mengajar mata pelajaran sosiologi.

Mulai tahun 2009 saya mengajar di dua lembaga, dan saya selalu mencoba mengatur waktu saya agar bisa membagi waktu dengan baik agar tidak ada salah satu lembaga yang dirugikan.

Hampir sebelas tahun saya mengajar mata pelajaran sosiologi di Madrasah Aliyah, dan alhamdulilah ilmu yang saya dapatkan waktu di kampus, bisa saya transferkan kepada anak didik saya. Meskipun saya akui, apakah metode dan cara saya mengajar bisa diterima oleh mereka, maklum seperti diawal dikatakan saya salah milih jurusan.

Tapi saya selalu ingat ucapan ayah saya, yaitu "Keun kembae lain jurusan guru ge, engke ge bakal biasa jeng pasti bisa" (Biar bukan jurusan dari guru juga, nanti juga bakal terbiasa dan akhirnya bisa). Itulah ucapan yang selalu saya simpan dalam hati sampai sekarang (Allahumagfirlahu)

Tidak ada yang sia-sia apa yang saya dapatkan saat kuliah di jurusan sosiologi. Toh ilmu yang saya peroleh saat kuliah, menurut saya tetap bisa diamalkan di situasi dan kondisi apapun.

Ketika kita naik bis dengan tujuan yang kita inginkan, namun tiba-tiba turun di tempat lain. Apakah ada yang sia-sia ? Jawaban saya Tidak. Dengan turun di tempat yang sama sekali tidak kita inginkan, kita jadi tahu tempat yang lain dengan berbagai isinya. Begitu juga, ketika saya kuliah jurusan Sosiologi, tiba tiba hari ini saya mengajar, di mana seharunya dulu saya mengambil jurusan pendidikan, bagi saya tidak ada yang rugi dan sia-sia. Justru ada dua keuntungan ketika saya salah mengambil jurusan, pertama pengalaman sebagai guru dapat, kedua ilmu saya bisa dimanfaatkan.

Wallahu 'alam

"Tidak ada yang salah saat kita memilih, Tapi jadi salah ketika pilihan kita itu tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya"