Sejujurnya sebagai tenaga pengajar, saya tidak setuju dengan keputusan pemerintah tentang belum diizinkannya pembelajaran tatap muka di sekolah. Namun, saya memahami apa yang menjadi keputusan pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan. Ada yang lebih penting dari sekedar tatap muka di sekolah, yaitu keselamatan peserta didik.

Entah kapan covid ini akan berlalu dan kita kembali kepada situasi normal, dimana kita bisa bertemu anak anak, melihat anak anak yang berlari saat olahraga, mendengar celotehan anak anak di kelas, tertawa bersama, dan masih banyak lagi situasi yang saya rindukan.

Denger-denger, katanya Mas Nadim, akan berusaha dan mengusahakan kalau tatap muka akan dilaksanakan di awal tahun ajaran 2021/2022. Mall aja udah dibuka masa sekolah enggak,, begitu katanya.
Mudah mudahan rencana itu akan segera terealisasi. Meskipun harus dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Selain rasa sedih, bingung, kesel, tapi ada juga lucunya. Salah satu pengalaman saya dengan situasi covid sekarang ini adalah pengalaman lucu saat saya tidak mengenal wajah wajah siswa baru. Bayangkan sejak mereka terdaftar sebagai siswa baru, mereka langsung harus belajar daring dari rumah. Otomatis sebagai guru juga tidak tahu wajah para siswa barunya.

Ketika akan dilaksanakan nya penilaian akhir semester, dan mereka harus mengambil soalnya langsung ke sekolah disanalah kita seperti bertemu dengan orang orang yang baru kenal. Siapa kamu ? Kelas berapa ? .. Hampir setiap siswa kelas 10 yang datang, pertanyaan itu yang selalu kami lontrakan. Ooh ... Kamu yang namanya ...., Ooh kamu yang sering nanya ini itu ...., Ternyata kamu toh orangnya ... , Hampir semua guru seperti itu reaksinya.

Itulah sisi lain diberlakukannya pembelajaran jarak jauh alias online. Mungkin itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa kita sebagai tenaga pengajar meminta kepada pemerintah untuk segera dibuka kembali belajar di sekolah.