Saat mendengar kata komunikasi, sebagai orang yang ngajar mata pelajaran sosiologi, pikiran  saya langsung teringat salah satu materi dalam sosiologi yaitu Interaksi Sosial. Dimana syarat untuk terjadinya interaksi sosial mesti ada dua syarat yang harus terpenuhi, kedua syarat itu adalah kontak dan komunikasi.

Kata “kontak” diturunkan dari Bahasa Latin: cum yang berarti bersama-sama dan tangere yang berarti menyentuh.  Kontak sosial dapat bersifat positif atau negatif. Kontak sosial positif mengarah pada kerjasama, sedangkan kontak sosial negatif mengarah pada pertentangan atau konflik. Kontak sosial dapat bersifat primer atau sekunder. Kontak sosial primer terjadi ketika para peserta interaksi bertatap muka secara langsung. Sementara kontak sekunder terjadi ketika interaksi berlangsung melalui pelantara/media

Komunikasi berasal dari kata ‘communicare’ (Bahasa Latin: berhubungan). Jadi, secara harfiah komunikasi adalah berhubungan atau bergaul dengan orang lain. Pada kontak sosial pengertiannya lebih ditekankan kepada orang atau kelompok yang berinteraksi, sedangkan komunikasi lebih ditekankan kepada bagaimana pesannya itu diproses. Harus diingat baha komunikasi akan terjalin apabila memenuhi 5 unsur, yaitu :

  1. Komunikator, yaitu pihak yang menyampaikan pesan. Artinya harus ada orang yang mau memulai melakukan kontak lebih dulu serta dilanjutkan dengan berkomunikasi yang didalamnya ada maksud dan tujuan tertentu
  2. Komunikan, yaitu pihak yang menerima pesan. Selain harus ada pihak pertama yang memulai dulu untuk berkomunikasi, tetapi harus ada juga pihak kedua yang mau menerima serta diajak berkomunikasi.
  3. Pesan, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Maksudnya harus ada pesan yang disampaikan, baik berupa pesan lisan langsung, pesan tulisan, atau pesan yang disampaikan hanya dengan symbol-simbol tertentu, misalnya gerak-gerik tubuh atau gambar-gambar tertentu
  4. Media, yaitu alat untuk menyampaikan pesan. Untuk media komunikasi sangat beragam, baik yang bersifat cetak maupun yang bersifat digital elektronik. Namun, untuk saat ini orang-orang lebih banyak menggunakan media elektronik/digital dalam menyampaikan pesan.
  5. Efek, yaitu perubahan yang diharapkan. Perubahan ini seperti dijelaskan sebelumnya bisa berdampak positif atau sebaliknya bisa juga berdampak negative.

Yang cukup menarik dari kelima unsur komunikasi tersebut adalah unsur yang kelima, yaitu efek yang ditimbulkan dari akibat adanya komunikasi dua belah pihak. Maunya sih dampak yang ditimbulkan adalah dampak yang baik atau positif, bukan dampak negative yang ujung-ujungnya bisa menimbulkan pertentangan dan konflik.

Menurut saya, positif atau negative yang akan muncul sebagai akhir dari sebuah komunikasi akan tergantung pada siapa yang menyampaikan pesan dan siapa yang menerima pesan. Jika seorang komunikator menyampaikan pesan dengan bahasa yang mudah difahami dan dengan penuh keyakinan, maka hasil akhirnya pun akan baik dan komunikan akan menerimanya dengan cepat. Tetapi, jika seorang komunikator menyampaikan pesannya dengan penuh keraguan dan dengan gaya bahasa yang membingungkan, maka dapat dipastikan pesan yang disampaikan akan sulit diterima dengan baik.

Makanya dalam sebuah iklan, si pembuat iklan sangat hati-hati dalam menentukan bintang iklannya. Karena jika salah dalam menentukan siapa bintang iklannya dalam hal ini sebagai komunikator sebuah produk, maka bisa jadi produknya akan kurang diminati oleh penonton. Apalagi dunia iklan adalah dunia bisnis yang berorientasi pada keuntungan ekonomi.

Contoh lain misalnya, pemerintah sekarang sedang dilanda berbagai isu atau gejala sosial, ada isu covid-19, vaksin, TWK KPK, Capres-Cawapres 2024, sampai yang terbaru adalah isu pembatalan Haji tahun 2021. Lagi-lagi, kalau saya amati, untuk menangkal isu-isu yang bisa berdampak negative dan liar di masyarakat, bisa kita lihat bagaimana para jubir dari pihak-pihak yang terlibat dalam semua isu tersebut, mungkin bisa dibilang mereka setiap hari menyampaikan pesan, laporan bahkan steatment untuk meluruskan isu-isu yang sebenarnya terjadi.

Tidak sembarangan orang yang  muncul dihadapan masyarakat untuk menjawab isu itu. Tentu yang dipilih adalah komunikator atau orang-orang yang dianggap mampu dan cakap menyampaikan pesan kepada masyarakat yang tujuan akhirnya adalah agar masyarakat mau mendengarkan dan mempercayai apa yang disampaikan. Maka tak jarang mereka menggunakan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh yang sangat besar atau mereka tidak jarang juga menggunakan para selebritas yang memiliki follower yang sangat banyak pula.

Tentu saja selain orang yang menyampaikan pesannya itu harus memiliki kemampuan, kalimat pesan yang akan disampaikanya pun juga harus mengandung bahasa atau kalimat-kalimat yang meyakinkan bagi penerima pesan.

Kesimpulannya, pesan akan sampai kepada penerima, berefek baik atau buruk, diterima cepat atau ditolak, semuanya akan tergantung kepada kelihaian dan kecakapan komunikator dalam menyampaikan pesan tersebut. Meskipun dalam literature Islam ada pernyataan “Lihatlah apa yang diucapkan, Jangan melihat siapa yang mengucapkan”, namun pada kenyataannya , setiap penerima pesan cenderung akan terlebih dahulu melihat siapa yang menyampaikan pesan itu.  Ini artinya komunikator memiliki peran yang sangat penting.

Meskipun dalam literature Islam ada pernyataan “Lihatlah apa yang diucapkan, Jangan melihat siapa yang mengucapkan”, namun pada kenyataannya , setiap penerima pesan cenderung akan terlebih dahulu melihat siapa yang menyampaikan pesan itu