Tradisi Puasa Selain di Agama Islam

Konten [Tampil]

Tradisi Puasa selain di agama Islam


Benarkah tradisi puasa hanya ada di agama Islam saja ? Ternyata di agama-agama lain selain Islam, tradisi atau kebiasaan puasa itu sering juga dilakukan. Di Islam sendiri kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan merupakan satu kewajiban syar'i yang diperintahkan oleh Allah lewat firmannya surat Al-Baqoroh ayat 183.

Ada banyak jenis puasa di Islam selain puasa wajib yang dilaksanakan di bulan Ramadhan. Ada puasa sunat seperti puasa yang dilakukan setiap hari Senin dan Kamis, serta puasa nabi Daud. Ada juga puasa yang haram dilakukan, misalnya puasa di hari raya Idul fitri dan Idul Adha serta puasa di tiga hari setelah Idul Adha atau puasa tasyrik.

Semua jenis puasa yang ada di agama Islam, untuk waktu pelaksanaannya sama, yakni dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Dengan tetap menahan dari lapar dan dahaga serta dari hal-hal yang membatalkan puasa.

Tradisi puasa di agama lain pun sudah pasti memiliki historis, latar belakang, waktu dan caranya masing-masing. Namun yang pasti semua ibadah puasa dari setiap agama memiliki tujuan yang sama yakni meningkatkan keimanan serta untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhannya.

Apakah tradisi atau ritual puasa di agama lain juga sama waktu dan tata caranya dengan puasa yang ada di agama Islam ? Dikutip dari beberapa situs berikut ibadah puasa yang dilakukan oleh agama lain selain Islam

Baca Juga : Makna Sosial dalam Ibadah Puasa Ramadhan

Agama Kristen

Selain Islam, agama Kristen juga punya tradisi puasa yang terdapat dalam ajaran Alkitabnya. Berikut jenis-jenis puasa dalam agama Kristen

1. Puasa Mutlak

Puasa mutlak adalah jenis puasa di mana seseorang tidak makan dan tidak minum sama sekali. Waktu pelaksanaan puasa ini bisa disesuaikan dengan kondisi pelaku puasa.

2. Puasa Normal

Dalam puasa ini, pelaku tidak makan sama sekali. Namun, mereka dapat minum sebanyak-banyaknya. Puasa normal bisa dilakukan selama beberapa hari, tergantung kondisi pelaku.

3. Puasa Sebagian

Puasa ini dilakukan dengan menghindari makanan dan minuman tertentu selama kurun waktu yang ditentukan

Agama Katolik

Dalam tradisi agama Katolik, dikenal istilah berpantang dan berpuasa, yakni masa puasa pra-Paskah. Masa puasa tersebut berlangsung selama 40 hari dihitung dari Rabu Abu hingga Jumat Agung.

Puasa ini diwajibkan bagi mereka yang sudah berusia 18 tahun ke atas dan mereka hanya diizinkan untuk makan kenyang sekali saja dalam sehari. Sedangkan untuk yang berusia 14 tahun ke atas, mereka berpantang dengan menghindarkan diri dari hal-hal yang disukai. Misalnya makan daging, garam, atau bahkan merokok.

Berpantang dan berpuasa ini dilakukan umat Katolik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan menyatukan dengan pengorbanan Yesus Kristus.

Agama Hindu

Tradisi puasa dalam agama Hindu disebut Upawasa, ada yang wajib dan ada juga yang tidak.

Salah satu Upawasa yang wajib adalah Upawasa Siwa Ratri, yakni umat Hindu tidak boleh makan dan minum dari matahari terbit hingga terbenam.

Juga ada Nyepi yang dilakukan dengan cara tidak makan dan minum sejak fajar hingga fajar keesokan harinya.

Puasa wajib yang lainnya dalam agama Hindu ada puasa penebusan dosa, puasa tilem, dan purnama.

Agama Buddha

Lain lagi dengan Agama Buddha yang memiliki tradisi puasa yang disebut dengan Uposatha.

Penentuan tanggal pelaksanaan puasanya ditentukan berdasarkan aliran Buddha yang diikuti, namun tetap mengikuti perhitungan kalender Buddhis.

Saat berpuasa, umat Buddha masih diperbolehkan minum, tapi tidak boleh makan. Ada delapan aturan selama melakukan Uposatha, yakni:

  • Tidak mencuri
  • Tidak melakukan kegiatan seksual
  • Tidak membunuh
  • Tidak berbohong
  • Tidak makan pada saat siang dan dini hari
  • Tidak menonton hiburan, memakai kosmetik, parfum, dan perhiasan

Agama Khonghucu

Sementara dalam agama Konghucu, puasa merupakan cara untuk mensucikan dan melatih diri dalam hal perilaku dan perkataan. Puasa juga bertujuan untuk menjadikan diri penuh cinta kasih. Ada dua jenis puasa Konghucu, yakni puasa jasmani dan rohani.

Agama Yahudi

Puasa atau Ta’anit dalam Agama Yahudi terdiri dari dua jenis, yakni pada hari besar (Yom Kippur, Tisha B’Av) dan hari kecil (Esther, Gedhalia).

Dalam puasa ini, umat Yahudi tidak diperbolehkan untuk makan dan minum, berhubungan seks, dan mengenakan sepatu kulit.

Sedangkan dalam hari Yom Kippur, mereka tidak diperbolehkan untuk menggosok gigi. Dan Puasa Yom Kippur ini tidak boleh dilakukan pada hari sabat. Sehingga jika terjadi hal demikian, para rabbi akan mencari hari pengganti

Kesimpulannya bahwa setiap agama dan pemeluknya memiliki tradisi puasa yang berbeda waktu dan caranya.

Pun bagi pemeluk agama Islam, perintah menjalankan ibadah puasanya sudah jelas termaktub dalam surat Al-Baqoroh ayat 183. Namun dari semua tradisi atau ibadah puasa itu tujuannya sama yaitu agar setiap pemeluknya lebih dekat dengan Tuhannya.


https://m.kumparan.com/amp/berita-hari-ini/mengetahui-jenis-puasa-dalam-kristen-yang-tercatat-di-alkitab-1vVu2lH5pDH

https://www.99.co/blog/indonesia/agama-yang-punya-tradisi-puasa/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar